• logo nu online
Home Warta Syiar Bahtsul Masail Keislaman Khutbah Teras Kiai Pernik Kiai Menjawab Pendidikan Opini Literasi Mitra Pemerintahan Ekonomi Tokoh Seni Budaya Lainnya
Sabtu, 4 Februari 2023

Warta

Tidak Ada Istilah Bekas Guru

Tidak Ada Istilah Bekas Guru
Foto bersama, setelah upacara peringatan hari guru nasional di Peasantren Al Hikmah, Bandar Lampung (Foto: Istimewa)
Foto bersama, setelah upacara peringatan hari guru nasional di Peasantren Al Hikmah, Bandar Lampung (Foto: Istimewa)

Bandar Lampung, NU Online Lampung

Guru tetaplah selamanya guru, tidak ada istilah bekas guru. Karena jika mengatakan ada bekas guru, berarti sama saja mengatakan bahwa ada bekas orang tua. Padahal orang tua dan guru sama-sama entitas yang tidak akan pernah bisa dipisahkan. 


Hal tersebut disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah, Kedaton Bandar Lampung, KH Basyaruddin Maisir pada upacara peringatan Hari Guru Nasional di Madrasah Aliyah (MA) Al Hikmah Kedaton Bandar Lampung, Jumat (25/11/2022).


“Guru adalah siapapun orang yang pernah mengajarkan dan memberikan ilmu serta keteladanan kepada kita. Guru tetaplah guru, tidak ada istilah bekas (mantan) guru, bekas orang tua. Guru dan orang tua adalah dua orang yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.


Menurut Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Lampung itu, kepada seluruh murid agar belajar langsung kepada guru bukan dari internet, karena jika hanya belajar dengan internet dikhawatirkan terjerumus dengan setan. 


Ilmu bita’alum, ilmu diperoleh dengan belajar kepada guru. Mungkin hari ini dengan dunia modern, kita bisa mencari ilmu dari berbagai sumber termasuk dari google (internet). Akan tetapi cukuplah internet dijadikan sebagai perbandingan-perbandingan dari ilmu yang kita peroleh dari seorang guru,” ungkapnya. 


Lebih lanjut ia mengatakan ilmu yang bermanfaat dihasilkan dari hikmatnya seorang murid kepada guru dan lembaga sekolah. Hikmatnya seorang murid kepada guru adalah menghormatinya dan hikmat kepada lembaga adalah mematuhi seluruh peraturan yang ditentukan sekolah. 


“Hikmat itu sangat penting bagi murid, yakni mengikuti seluruh aturan guru dan lembaga. Selama guru tidak menyuruh kepada hal-hal negatif. Akan tetapi, ketika guru memerintahkan hal-hal yang positif maka wajib diikuti,” katanya.


Tidak hanya sekadar nasihat, Kiai Maisir juga langsung memberikan contoh kepada murid dengan sejarah, bahwa ketika kiai mondok (sekolah) di Jawa dulu tidak pernah sedikitpun ditakzir (dihukum) karena hikmat (patuh) kepada sekolah dan guru. Serta akan tetap hikmat, dimanapun jika ada salah satu gurunya berada di Lampung. 


“Bapak sebagai salah satu alumni pesantren tidak pernah ditakzir karena patuh kepada aturan pesantren. Dimanapun ada guru bapak, di pelosok manapun di Lampung, saya datangi, saya harus datang. Kalau tidak datang saya merasa berdosa, karena saya bisa berdiri disini, berdiri hari ini, bisa qala Rasulullah karena pelajaran dari seorang guru,” ujarnya.

(Yudi Prayoga)
 


Warta Terbaru