Warta

Kisah Wafatnya Nabi Adam

Rabu, 1 Agustus 2018 | 08:29 WIB

NABI-nabi merupakan orang-orang dengan kualitas rohani yang luar biasa. Namun sebagaimana umumnya manusia, secara fisik mereka memiliki keterbatasan-keterbatasan. Mereka makan, minum, istirahat, dan juga meninggal dunia. Sifat-sifat manusiawi ini pula yang dimiliki Nabi Adam 'alaihissalam. Beliau didiciptakan oleh Allah sebagai manusia pertama, lalu bersama sang istri Hawa hidup di bumi dengan batas usia yang sudah ditetapkan. Nabi Adam dianugerahi karunia bisa merasakan detik-detik akhir masa hidupnya. Sehingga ketika ajal itu hendak datang, Nabi Adam tampak seperti telah mempersiapkan semuanya. Nabi Adam memulainya dengan mengajukan permintaan terakhir kepada putra-putranya, yakni ingin memakan buah surga. Permintaan ini sulit bila harus dimaknai secara harfiah, karena di alam dunia yang serbafana ini buah surga mustahil ditemukan. Surga hanya ada di alam akhirat. Sebab itulah, ada ulama yang menafsirkan bahwa permintaan akan buah surga merupakan isyarat bahwa Nabi Adam tengah dilanda rindu akan kebahagiaan surgawi yang pernah beliau tinggali sebelum turun ke bumi. Inilah sinyal bahwa kawafatan beliau semakin dekat. Meski demikian, sebagai anak berbakti, para putra Nabi Adam tetap berangkat mencarikan buah surga. Namun, tak jauh usai meninggalkan sang ayah, perjalanan mereka diadang oleh sejumlah lelaki. "Wahai anak-anak Adam, apa yang kalian cari? Atau apa yang kalian mau? Dan ke mana kalian pergi?" Mereka menjawab, "Bapak kami sakit, beliau ingin makan buah dari Surga." "Pulanglah, karena ketetapan untuk bapak kalian telah tiba," pinta para lelaki itu yang ternyata adalah para malaikat yang sedang menjelma manusia. Di tangan mereka sudah tersedia kafan, wewangian, serta sejumlah perangkat yang lazim diperlukan untuk menggali kubur: kapak, cangkul, dan sekop. Saat para malaikat itu datang, Hawa melihat dan mengenali mereka, maka ia pun berlindung kepada Nabi Adam. "Menjauhlah dariku. Aku pernah melakukan kesalahan karenamu. Biarkan aku dengan malaikat Tuhanku tabĆ¢raka wa ta'Ć¢lĆ¢," kata Nabi Adam kepada Hawa. Para malaikatlah yang mencabut nyawa Nabi Adam, lantas memandikannya, mengkafaninya, memberinya wewangian, menyiapkan liang lahad, juga menshalatinya. Selanjutnya mereka turun ke kuburnya, memasukkan jenazah Adam ke dalam, lalu mereka meletakkan bata di atasnya. Usai naik ke atas kubur, mereka pun menimbunnya dengan batu. Mereka berseru, "Wahai anak cucu Adam, ini adalah sunnah kalian." Rupanya Nabi Adam mempersiapkan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya tentang bagaimana semestinya memperlakukan orang meninggal. Manusia tak hanya dihormati ketika masih hidup tapi juga saat mereka mati. Standar penghormatan pun tak berlebihan. Tak ada prosesi pembakaran mayat, mutilasi tubuh, menempeli jenazah dengan perhiasan, atau semacamnya. Namun, semua pelajaran tersebut cukup menggambarkan bahwa manusia itu pada dasarnya mulia, namun kehidupan duniawinya pasti berujung fana. Dari tanah kembali ke tanah. Kisah ini bisa kita jumpai salah satunya dari uraian Syekh Umar Sulaiman Abdullah al-Asyqar dalam kitab ShahĆ®hul Qishash an-NabawĆ® yang mendasarkan cerita pada hadits marfu’ sebagai berikut: Ų¹ŁŽŁ†Ł’ Ų¹ŁŲŖŁŽŁŠŁ‘Ł ، Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ų±ŁŽŲ£ŁŽŁŠŁ’ŲŖŁ Ų“ŁŽŁŠŁ’Ų®Ł‹Ų§ ŲØŁŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲÆŁŁŠŁ†ŁŽŲ©Ł ŁŠŁŽŲŖŁŽŁƒŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁ…Ł ، ŁŁŽŲ³ŁŽŲ£ŁŽŁ„Ł’ŲŖŁ Ų¹ŁŽŁ†Ł’Ł‡Ł ، ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ : Ł‡ŁŽŲ°ŁŽŲ§ Ų£ŁŲØŁŽŁŠŁ‘Ł ŲØŁ’Ł†Ł ŁƒŁŽŲ¹Ł’ŲØŁ ، ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽ Ų¢ŲÆŁŽŁ…ŁŽ Ł„ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ Ų­ŁŽŲ¶ŁŽŲ±ŁŽŁ‡Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁˆŁ’ŲŖŁ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ Ł„ŁŲØŁŽŁ†ŁŁŠŁ‡Ł : Ų£ŁŽŁŠŁ’ ŲØŁŽŁ†ŁŁŠŁ‘ŁŽ Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŁŠ Ų£ŁŽŲ“Ł’ŲŖŁŽŁ‡ŁŁŠ مِنْ Ų«ŁŁ…ŁŽŲ§Ų±Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŲ©Ł ، ŁŁŽŲ°ŁŽŁ‡ŁŽŲØŁŁˆŲ§ ŁŠŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲØŁŁˆŁ†ŁŽ Ł„ŁŽŁ‡Ł ، ŁŁŽŲ§Ų³Ł’ŲŖŁŽŁ‚Ł’ŲØŁŽŁ„ŁŽŲŖŁ’Ł‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ¹ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ Ų£ŁŽŁƒŁ’ŁŁŽŲ§Ł†ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ­ŁŽŁ†ŁŁˆŲ·ŁŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ¹ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł Ų§Ł„Ł’ŁŁŲ¤ŁŁˆŲ³Ł ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŲ³ŁŽŲ§Ų­ŁŁŠ ŁˆŁŽŲ§Ł„Ł’Ł…ŁŽŁƒŁŽŲ§ŲŖŁŁ„Ł ، ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ : ŁŠŁŽŲ§ ŲØŁŽŁ†ŁŁŠ Ų¢ŲÆŁŽŁ…ŁŽ ، Ł…ŁŽŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŁŠŲÆŁŁˆŁ†ŁŽ ؟ ŁˆŁŽŁ…ŁŽŲ§ ŲŖŁŽŲ·Ł’Ł„ŁŲØŁŁˆŁ†ŁŽ ؟ Ų£ŁŽŁˆŁ’ Ł…ŁŽŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŁŠŲÆŁŁˆŁ†ŁŽ ؟ ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ ŲŖŁŽŲ°Ł’Ł‡ŁŽŲØŁŁˆŁ†ŁŽ ؟ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ : Ų£ŁŽŲØŁŁˆŁ†ŁŽŲ§ Ł…ŁŽŲ±ŁŁŠŲ¶ŁŒ ŁŁŽŲ§Ų“Ł’ŲŖŁŽŁ‡ŁŽŁ‰ مِنْ Ų«ŁŁ…ŁŽŲ§Ų±Ł Ų§Ł„Ł’Ų¬ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŲ©Ł ، Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŁ‡ŁŁ…Ł’ : Ų§Ų±Ł’Ų¬ŁŲ¹ŁŁˆŲ§ ŁŁŽŁ‚ŁŽŲÆŁ’ Ł‚ŁŲ¶ŁŁŠŁŽ Ł‚ŁŽŲ¶ŁŽŲ§Ų”Ł Ų£ŁŽŲØŁŁŠŁƒŁŁ…Ł’ ŁŁŽŲ¬ŁŽŲ§Ų¤ŁŁˆŲ§ ، ŁŁŽŁ„ŁŽŁ…Ł‘ŁŽŲ§ Ų±ŁŽŲ£ŁŽŲŖŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ Ų­ŁŽŁˆŁ‘ŁŽŲ§Ų”Ł Ų¹ŁŽŲ±ŁŽŁŁŽŲŖŁ’Ł‡ŁŁ…Ł’ ، ŁŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ°ŁŽŲŖŁ’ ŲØŁŲ¢ŲÆŁŽŁ…ŁŽ ، ŁŁŽŁ‚ŁŽŲ§Ł„ŁŽ : Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁ’ŁƒŁ Ų„ŁŁ„ŁŽŁŠŁ’ŁƒŁ Ų¹ŁŽŁ†Ł‘ŁŁŠ ŁŁŽŲ„ŁŁ†Ł‘ŁŁŠ Ų„ŁŁ†Ł‘ŁŽŁ…ŁŽŲ§ Ų£ŁŁˆŲŖŁŁŠŲŖŁ مِنْ Ł‚ŁŲØŁŽŁ„ŁŁƒŁ ، Ų®ŁŽŁ„Ł‘ŁŁŠ ŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŁŠ ŁˆŁŽŲØŁŽŁŠŁ’Ł†ŁŽ Ł…ŁŽŁ„Ų§ŁŽŲ¦ŁŁƒŁŽŲ©Ł Ų±ŁŽŲØŁ‘ŁŁŠ - ŲŖŁŽŲØŁŽŲ§Ų±ŁŽŁƒŁŽ ŁˆŁŽŲŖŁŽŲ¹ŁŽŲ§Ł„ŁŽŁ‰ - ŁŁŽŁ‚ŁŽŲØŁŽŲ¶ŁŁˆŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŲŗŁŽŲ³Ł‘ŁŽŁ„ŁŁˆŁ‡Ł ŁˆŁŽŁƒŁŽŁŁ‘ŁŽŁ†ŁŁˆŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ­ŁŽŁ†Ł‘ŁŽŲ·ŁŁˆŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŲ­ŁŽŁŁŽŲ±ŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŁ‡Ł ŁˆŁŽŲ£ŁŽŁ„Ł’Ų­ŁŽŲÆŁŁˆŲ§ Ł„ŁŽŁ‡Ł ، ŁˆŁŽŲµŁŽŁ„Ł‘ŁŽŁˆŁ’Ų§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł ، Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ ŲÆŁŽŲ®ŁŽŁ„ŁŁˆŲ§ Ł‚ŁŽŲØŁ’Ų±ŁŽŁ‡Ł ŁŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŲ¹ŁŁˆŁ‡Ł فِي Ł‚ŁŽŲØŁ’Ų±ŁŁ‡Ł ŁˆŁŽŁˆŁŽŲ¶ŁŽŲ¹ŁŁˆŲ§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ų§Ł„Ł„Ł‘ŁŽŲØŁŁ†ŁŽ ، Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ Ų®ŁŽŲ±ŁŽŲ¬ŁŁˆŲ§ Ł…ŁŁ†ŁŽ Ų§Ł„Ł’Ł‚ŁŽŲØŁ’Ų±Ł ، Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ Ų­ŁŽŲ«ŁŽŁˆŁ’Ų§ Ų¹ŁŽŁ„ŁŽŁŠŁ’Ł‡Ł Ų§Ł„ŲŖŁ‘ŁŲ±ŁŽŲ§ŲØŁŽ ، Ų«ŁŁ…Ł‘ŁŽ Ł‚ŁŽŲ§Ł„ŁŁˆŲ§ : ŁŠŁŽŲ§ ŲØŁŽŁ†ŁŁŠ Ų¢ŲÆŁŽŁ…ŁŽ Ł‡ŁŽŲ°ŁŁ‡Ł Ų³ŁŁ†Ł‘ŁŽŲŖŁŁƒŁŁ…Ł’ Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaidul Musnad (5/136). Ibnu Katsir menyebut sanad hadits ini shahih kepada Ubay bin Kaab (Al-Bidayah wan Nihayah, 1/98). Al-Haitsami juga mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad. Rawi-rawinya tergolong rawi shahih, kecuali Uttiy bin Dhamurah. Dia adalah rawi tsiqah (Majmauz Zawaid, 8/199). Hadits ini meskipun mauqĆ»f (sanadnya tidak sampai pada Nabi ļ·ŗ) melainkan hanya pada Ubay bin Ka’ab, tetapi mempunyai kekuatan hadits marfû’ (sanadnya bersambung ke Rasulullah) karena tak mungkin hal itu keluar dari pendapat pribadi. Wallahu a’lam. (Mahbib)